Pandangan Jabariah dan Qodariah dan Sebuah Upaya Kompromi[1]
Oleh: Muhammad Sakinul Wadi
Allah adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta (QS: 6; 101), termasuk didalamnya manusia. Semua yang dapat memberikan faedah bagi manusia diberikan allah sebagai karunia kepada manusia. Artinya, segala sesuatu mempunyai nilai yang dapat dimanfaatkan atau digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu karunia yang sangat berharga dan membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal.
Allah SWT bersifat maha kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Disinilah timbul pertanyaan, sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan bergantung kepada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah dalam menentukan perjalanan hidupnya? Ataukah Allah memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada manusia untuk mengatur hidupnya, atau manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah? Lalu apa tujuan Allah memberikan karunia akal kepada manusia?
Pertanyaan-pertanyaan diatas telah lebih dari 13 abad mewarnai perjalanan umat islam hingga saat ini. Menurut ulama tarikh (sejarah) bahkan masalah ini erat kaitanya dengan dinamika politik ketika itu.
Diantara kelompok atau faham yang sangat dikenal dalam sejarah adalah faham jabariah dan qodariah yang masing-masing memiliki paradigma yang saling bertolak belakang, khususnya menyangkut masalah kekuasaan dalam berkehendak.
Menurut faham qodariah, bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut faham ini manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian setelah Allah menciptakan manusia dan segala sesuatu yang ada di alam semesta selanjutnya kekuasaan untuk menentukan bagaimana dan seperti apa perjalanan hidupnya, berada di tangan manusia. Untuk itulah manusia diberikan akal. Dari pengertian inilah nama qodariah berasal, yaitu bahwa manusia mempunyai Qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya (free will).
Faham jabariah berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak atau perbuatannya, akan tetapi terikat atau tergantung pada kehendak mutlak Allah. Dengan demikian, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa, sebab perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan sejak semula oleh Allah. Dari pengertian ini pulalah nama jabariah berasal, yaitu bahwa manusia menjalani hidup dalam keadaan terpaksa (ja-ba-ra).
Singkatnya, bagi qadariah, manusialah yang menentukan apakah ia akan menjadi orang baik atau orang jahat, menjadi orang kaya atau orang miskin dan seterusnya, dengan menggunakan akalnya. Sebaliknya bagi jabariah, semua itu telah ditentukan oleh Allah sebelumnya, sehingga manusia hanya memerankannya, ibarat wayang yang dimainkan oleh dalang.
Muncul pertanyaan, jika benar manusia sendiri yang menetukan jalan hidupnya, lalu apa faedah/efek manusia memohon (berdo’a) kepada Allah? Sebaliknya, jika benar jalan hidup manusia telah ditentukan Allah, lantas apa faedah manusia berusaha?
Sebagai ummat islam, tentu kita menginginkan agar perjalanan hidup kita sesuai dengan ajaran Allah yang telah tertuang dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh nabi Muhammad, agar dapat mencapai kesuksesan baik di dunia maupun akhirat. Oleh sebab itu, untuk mencari titik temu pandangan yang saling kontradiktif dari kedua faham di atas, kita pun harus mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sembari memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan jalan untuk sampai kepada jawaban yang kita cari, insyaAllah..
Allah SWT. Berfirman:
Artinya: “pedoman hidup, yang menjadi penjelasan dari pedoman itu sendiri, dan sebagai teory perbandingan (antara nilai hak dan nilai bathil)”(Q.S. 2:185)
Dari potongan ayat di atas, dapat ditarik tiga prinsip:
1. Deskriptif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan harga dan nilai informasi yang dijelaskannya (hak maupun bathil). Lihat surah 16;44, 2;221.
2. Komparatif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an untuk membandingkan harga dan nilai informasi yang telah dijelaskan (antara Haq dengan Bathil). Lihat Q.S. 2:256, 7:146, 8:8.
3. Harga dan nilai HaqAlternatif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia, dengan memberikan kebebasan memilih kepada manusia sesuai dengan kehendaknya (Haq atau Bathil). Lihat Q.S. 76:3, 18:29.
Ø Allah mendeskripsikan dan mengkomparatifkan masing-masing harga dan nilai secara objektif kepada manusia menurut kehendak-Nya. Harga dan nilai ini bersifat tetap, sebagai ketentuan yang tidak bisa dirubah oleh manusia
Ø Manusia mengalternatif salah satu harga dan nilai (hak atau bathil) sesuai dengan kehendak manusia (subjektif manusia).
Ø Untuk mendapatkan nilai (hak atau bathil) manusia harus membayar harga yang telah ditentukan oleh Allah.
Ø Harga hak bernilai hak dan harga bathil bernilai bathil. Pasangan dari masing-masing harga dan nilai bersifat tetap.
NILAI DAN HARGA
Nilai adalah ; kemampuan yang membuat sesuatu menjadi sedemikian rupa.
Harga adalah ; jumlah yang harus dibayar / dikorbankan untuk mendapatkan nilai.
Contoh nilai ;
Satu gelas minuman mampu menghilangkan dahaga satu orang dalam waktu tertentu. Nilai ini sifatnya tetap, tidak bergantung pada mau atau tidaknya manusia membayar harganya. Artinya, minuman tersebut tetap mampu menghilangkan dahaga meskipun manusia tidak mau dengan minuman tersebut.
Contoh harga :
Minuman diatas oleh yang memilikinya dijual dengan harga Rp. 1000. siapapun yang menghendaki nilai minuman tersebut, harus mengorbankan / membayar seharga Rp. 1000. selanjutnya meskipun ia telah membayar Rp. 1000 ia tetap harus menanyakan / meminta kepada pemiliknya agar mau menjual minuman tersebut kepadanya. Sebab, bisa saja minuman tersebut telah dipesan orang lain atau pemilik minuman tersebut tidak mau menjual kepadanya dengan alasan tertentu.
Singkatnya, untuk mendapatkan nilai manusia harus mengorbankan sejumlah sesuatu untuk membayar harganya. Dalam konteks Al-Qur’an, harga hak untuk nilai hak, harga bathil unuk nilai bathil. Siapa yang menghendaki nilai hak harus membayar harga hak, demikian pula sebaliknya. Mau dengan harga hak silahkan…! Yang pasti harga hak bernilai jannah. Mau dengan harga bathil, silahkan…! Yang jelas harga bathil bernilai naar (kesengsaraan). Allah telah menetapkan pasangan masing-masing yang tidak bisa dirubah dengan manusia. Namun manusia diberikan kekuasaan / kebebasan untuk memilih. Allah hanya berharap agar manusia mau memilih harga dan nilai hak, demi kebahagiaannya di dunia dan akhirat.
Contoh harga dan nilai dalam Al-Qur’an:
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah “membeli” jiwa dan harta orang mukmin dengan surga bagi mereka. Mereka berperang dijalan Allah baik membunuh atau terbunuh, janji Allah sudah pasti, ini ketetapan allah dalam taurat, injil dan al-qur’an. Tak ada yang lebih setia menepati janji dari pada allah. Maka, bergembiralah dengan janji yang kamu buat. Itulah suatu kemenangan yang sungguh besar”.
Artinya, mengorbankan jiwa dan harta merupakan harga yang harus dibayar untuk mendapatkan iman. Dan iman mampu menciptakan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi siapapun (bernilai jannah). Siapa yang menetapkan harga dan nilai? Allah! Dan siapa yang harus membayar harga dari nilai tersebur? Manusia!
Berkaitan dengan masalah rezeki, – yang mana menurut jabariah bahwa Allah telah menetapkan rezeki setiap manusia sejak awal, dan menurut qodariah bahwa Allah belum menentukan rezeki manusia sejak awal, tetapi manusia lah yang menentukan sendiri rezekinya – dengan rumusan dan harga nilai ini, allah memerintahkan kepada manusia untuk berusaha dan berdoa. Perintah berusaha dapat kita lihat dalam QS. 62:10 dan perintah berdoa dalam QS. 40:60
Dengan demikian, berusaha dan berdoa merupakan harga yang harus dibayar oleh manusia untuk mendapatkan rezeki dari Allah. Allah telah mengaruniai manusia dengan akal dan jasmani yang sehat, dan dengan itu manusia harus berusaha, setelah berusaha manusia harus berdoa agar usahanya tidak menemui hambatan, sehingga ia akan mendapatkan apa yang ia usahakan. Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam hal ini. Pertama, manusia telah diberikan oleh Allah daya upaya dalam bentuk kemampuan bekerja dan berfikir. Di dalam lapangan rezeki, ada hal-hal yang berada dalam jangkauan daya manusia, yang dapat diraih dengan bekerja dan berfikir. Namun demikian, ada pula hal-hal yang berada diluar jangkauan daya manusia yang tidak dapat diupayakan dengan kemampuan bekerja dan befikirnya, misalnya perubahan iklim, bencana dan lain-lain. Hal yang kedua inilah yang harus diupayakan dengan doa, agar Allah SWT menjauhkan hal-hal yang dapat menghambat dan menghalangi usaha manusia untuk mendapatkan rezekiNya.
Apabila kita kaitkan dengan pandangan kodariah maka dapat dikatakan manusia hanya perlu berusaha saja. Sementara jabariah cukup dengan doa saja, atau bahkan dengan berdiam diri saja, sebab segala sesuatu telah ditetapkan Allah. Ada juga yang berpendapat bahwa rezeki, umur dan lain sebagainya telah ditetapkan oleh Allah sejak semula, namun ketetapan itu tidak menggugurkan kewajiban manusia untuk berusaha dan berdoa. Mudah-mudahan apa yang telah kami deskriptifkan dan komparatifkan dapat mengkompromikan sisi-sisi kontrdiktif dari pandangan-pandangan diatas. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita semua dari kesalahan. Amin……
Demikianlah pemaparan materi diskusi kali ini, semoga bermanfaat khususnya bagi kami pribadi dan umumnya para hadirin sekalian. WALLAHU A’LAM
[1] Disampaikan pada pertemuan rutin Ikatan Keluarga Riau Yogyakarta, Tgl. 12 Maret 2008.
Oleh: Muhammad Sakinul Wadi
Allah adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta (QS: 6; 101), termasuk didalamnya manusia. Semua yang dapat memberikan faedah bagi manusia diberikan allah sebagai karunia kepada manusia. Artinya, segala sesuatu mempunyai nilai yang dapat dimanfaatkan atau digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu karunia yang sangat berharga dan membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal.
Allah SWT bersifat maha kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Disinilah timbul pertanyaan, sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan bergantung kepada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah dalam menentukan perjalanan hidupnya? Ataukah Allah memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada manusia untuk mengatur hidupnya, atau manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah? Lalu apa tujuan Allah memberikan karunia akal kepada manusia?
Pertanyaan-pertanyaan diatas telah lebih dari 13 abad mewarnai perjalanan umat islam hingga saat ini. Menurut ulama tarikh (sejarah) bahkan masalah ini erat kaitanya dengan dinamika politik ketika itu.
Diantara kelompok atau faham yang sangat dikenal dalam sejarah adalah faham jabariah dan qodariah yang masing-masing memiliki paradigma yang saling bertolak belakang, khususnya menyangkut masalah kekuasaan dalam berkehendak.
Menurut faham qodariah, bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut faham ini manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian setelah Allah menciptakan manusia dan segala sesuatu yang ada di alam semesta selanjutnya kekuasaan untuk menentukan bagaimana dan seperti apa perjalanan hidupnya, berada di tangan manusia. Untuk itulah manusia diberikan akal. Dari pengertian inilah nama qodariah berasal, yaitu bahwa manusia mempunyai Qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya (free will).
Faham jabariah berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak atau perbuatannya, akan tetapi terikat atau tergantung pada kehendak mutlak Allah. Dengan demikian, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa, sebab perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan sejak semula oleh Allah. Dari pengertian ini pulalah nama jabariah berasal, yaitu bahwa manusia menjalani hidup dalam keadaan terpaksa (ja-ba-ra).
Singkatnya, bagi qadariah, manusialah yang menentukan apakah ia akan menjadi orang baik atau orang jahat, menjadi orang kaya atau orang miskin dan seterusnya, dengan menggunakan akalnya. Sebaliknya bagi jabariah, semua itu telah ditentukan oleh Allah sebelumnya, sehingga manusia hanya memerankannya, ibarat wayang yang dimainkan oleh dalang.
Muncul pertanyaan, jika benar manusia sendiri yang menetukan jalan hidupnya, lalu apa faedah/efek manusia memohon (berdo’a) kepada Allah? Sebaliknya, jika benar jalan hidup manusia telah ditentukan Allah, lantas apa faedah manusia berusaha?
Sebagai ummat islam, tentu kita menginginkan agar perjalanan hidup kita sesuai dengan ajaran Allah yang telah tertuang dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh nabi Muhammad, agar dapat mencapai kesuksesan baik di dunia maupun akhirat. Oleh sebab itu, untuk mencari titik temu pandangan yang saling kontradiktif dari kedua faham di atas, kita pun harus mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sembari memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan jalan untuk sampai kepada jawaban yang kita cari, insyaAllah..
Allah SWT. Berfirman:
Artinya: “pedoman hidup, yang menjadi penjelasan dari pedoman itu sendiri, dan sebagai teory perbandingan (antara nilai hak dan nilai bathil)”(Q.S. 2:185)
Dari potongan ayat di atas, dapat ditarik tiga prinsip:
1. Deskriptif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan harga dan nilai informasi yang dijelaskannya (hak maupun bathil). Lihat surah 16;44, 2;221.
2. Komparatif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an untuk membandingkan harga dan nilai informasi yang telah dijelaskan (antara Haq dengan Bathil). Lihat Q.S. 2:256, 7:146, 8:8.
3. Harga dan nilai HaqAlternatif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia, dengan memberikan kebebasan memilih kepada manusia sesuai dengan kehendaknya (Haq atau Bathil). Lihat Q.S. 76:3, 18:29.
Ø Allah mendeskripsikan dan mengkomparatifkan masing-masing harga dan nilai secara objektif kepada manusia menurut kehendak-Nya. Harga dan nilai ini bersifat tetap, sebagai ketentuan yang tidak bisa dirubah oleh manusia
Ø Manusia mengalternatif salah satu harga dan nilai (hak atau bathil) sesuai dengan kehendak manusia (subjektif manusia).
Ø Untuk mendapatkan nilai (hak atau bathil) manusia harus membayar harga yang telah ditentukan oleh Allah.
Ø Harga hak bernilai hak dan harga bathil bernilai bathil. Pasangan dari masing-masing harga dan nilai bersifat tetap.
NILAI DAN HARGA
Nilai adalah ; kemampuan yang membuat sesuatu menjadi sedemikian rupa.
Harga adalah ; jumlah yang harus dibayar / dikorbankan untuk mendapatkan nilai.
Contoh nilai ;
Satu gelas minuman mampu menghilangkan dahaga satu orang dalam waktu tertentu. Nilai ini sifatnya tetap, tidak bergantung pada mau atau tidaknya manusia membayar harganya. Artinya, minuman tersebut tetap mampu menghilangkan dahaga meskipun manusia tidak mau dengan minuman tersebut.
Contoh harga :
Minuman diatas oleh yang memilikinya dijual dengan harga Rp. 1000. siapapun yang menghendaki nilai minuman tersebut, harus mengorbankan / membayar seharga Rp. 1000. selanjutnya meskipun ia telah membayar Rp. 1000 ia tetap harus menanyakan / meminta kepada pemiliknya agar mau menjual minuman tersebut kepadanya. Sebab, bisa saja minuman tersebut telah dipesan orang lain atau pemilik minuman tersebut tidak mau menjual kepadanya dengan alasan tertentu.
Singkatnya, untuk mendapatkan nilai manusia harus mengorbankan sejumlah sesuatu untuk membayar harganya. Dalam konteks Al-Qur’an, harga hak untuk nilai hak, harga bathil unuk nilai bathil. Siapa yang menghendaki nilai hak harus membayar harga hak, demikian pula sebaliknya. Mau dengan harga hak silahkan…! Yang pasti harga hak bernilai jannah. Mau dengan harga bathil, silahkan…! Yang jelas harga bathil bernilai naar (kesengsaraan). Allah telah menetapkan pasangan masing-masing yang tidak bisa dirubah dengan manusia. Namun manusia diberikan kekuasaan / kebebasan untuk memilih. Allah hanya berharap agar manusia mau memilih harga dan nilai hak, demi kebahagiaannya di dunia dan akhirat.
Contoh harga dan nilai dalam Al-Qur’an:
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah “membeli” jiwa dan harta orang mukmin dengan surga bagi mereka. Mereka berperang dijalan Allah baik membunuh atau terbunuh, janji Allah sudah pasti, ini ketetapan allah dalam taurat, injil dan al-qur’an. Tak ada yang lebih setia menepati janji dari pada allah. Maka, bergembiralah dengan janji yang kamu buat. Itulah suatu kemenangan yang sungguh besar”.
Artinya, mengorbankan jiwa dan harta merupakan harga yang harus dibayar untuk mendapatkan iman. Dan iman mampu menciptakan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi siapapun (bernilai jannah). Siapa yang menetapkan harga dan nilai? Allah! Dan siapa yang harus membayar harga dari nilai tersebur? Manusia!
Berkaitan dengan masalah rezeki, – yang mana menurut jabariah bahwa Allah telah menetapkan rezeki setiap manusia sejak awal, dan menurut qodariah bahwa Allah belum menentukan rezeki manusia sejak awal, tetapi manusia lah yang menentukan sendiri rezekinya – dengan rumusan dan harga nilai ini, allah memerintahkan kepada manusia untuk berusaha dan berdoa. Perintah berusaha dapat kita lihat dalam QS. 62:10 dan perintah berdoa dalam QS. 40:60
Dengan demikian, berusaha dan berdoa merupakan harga yang harus dibayar oleh manusia untuk mendapatkan rezeki dari Allah. Allah telah mengaruniai manusia dengan akal dan jasmani yang sehat, dan dengan itu manusia harus berusaha, setelah berusaha manusia harus berdoa agar usahanya tidak menemui hambatan, sehingga ia akan mendapatkan apa yang ia usahakan. Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam hal ini. Pertama, manusia telah diberikan oleh Allah daya upaya dalam bentuk kemampuan bekerja dan berfikir. Di dalam lapangan rezeki, ada hal-hal yang berada dalam jangkauan daya manusia, yang dapat diraih dengan bekerja dan berfikir. Namun demikian, ada pula hal-hal yang berada diluar jangkauan daya manusia yang tidak dapat diupayakan dengan kemampuan bekerja dan befikirnya, misalnya perubahan iklim, bencana dan lain-lain. Hal yang kedua inilah yang harus diupayakan dengan doa, agar Allah SWT menjauhkan hal-hal yang dapat menghambat dan menghalangi usaha manusia untuk mendapatkan rezekiNya.
Apabila kita kaitkan dengan pandangan kodariah maka dapat dikatakan manusia hanya perlu berusaha saja. Sementara jabariah cukup dengan doa saja, atau bahkan dengan berdiam diri saja, sebab segala sesuatu telah ditetapkan Allah. Ada juga yang berpendapat bahwa rezeki, umur dan lain sebagainya telah ditetapkan oleh Allah sejak semula, namun ketetapan itu tidak menggugurkan kewajiban manusia untuk berusaha dan berdoa. Mudah-mudahan apa yang telah kami deskriptifkan dan komparatifkan dapat mengkompromikan sisi-sisi kontrdiktif dari pandangan-pandangan diatas. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita semua dari kesalahan. Amin……
Demikianlah pemaparan materi diskusi kali ini, semoga bermanfaat khususnya bagi kami pribadi dan umumnya para hadirin sekalian. WALLAHU A’LAM
[1] Disampaikan pada pertemuan rutin Ikatan Keluarga Riau Yogyakarta, Tgl. 12 Maret 2008.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar