Sabtu, 10 Mei 2008

Kebenaran

Sebagian orang mengatakan, kebenaran adalah apa yang kita yakini bahwa sesuatu itu benar. apapun, bila kita yakin itu benar, maka itulah kebanaran. dengan demikian, ukuran kebenaran yang digunakan adalah keyakinan. keyakinan ini pada dasarnya berkaitan dengan sebuah gagasan atau ide yang belum dijajaki atau dibuktikan dalam kenyataan, namun pikiran manusia dengan didukung kata hatinya dapat mempersepsikan nilai gagasan atau ide tersebut sebagai sesuatu yang salah atau benar, diukur dari tingkat keyakinan orang yang mempersepepsikan tersebut. tidak heran bila banyak orang yang punya prinsip, "lakukan apa yang kamu yakini."atau, "tanyakan pada hatimu, karna hati tak pernah bohong." artinya, hati selalu berkata benar. singkatnya, kebenaran suatu gagasan atau ide diukur berdasarkan keyakinan dalam hati.
pertanyaannya, benarkah hati tak pernah bohong? lantas mengapa orang yang dibohongi selalu mengatakan, "sampai hati anda membohongi saya." cukupkah kebenaran itu diukur dengan keyakinan dalam hati? bukankan semua orang punya kata hati yang berbeda-beda, sehingga keyakinan beberapa orang tentang setu gagasan akan berbeda-beda pula? akankah seseorang tetap akan meyakini sesuatu itu benar adanya meski tidak bisa dibuktikan?
Pertanyaan terakhir membawa kita kepada pandangan sebagian orang lagi yang memandang bahwa kebanaran tidak bisa disandarkan dengan keyakinan dalam hati, tapi kebenaran bergantung pada ada atau tidaknya bukti. bagaimanapun seseorang meyakinkan orang lain dengan gagasannya, pada akhirnya bukti juga yang akan menentukan persepsi orang tentang benar atau tidaknya gagasan tersebut. singkatnya, kebenaran diukur berdasarkan ada atau tidaknya bukti. karena itu, tidaklah heran bila ada orang yang mengatakan, "jangan cuma ngomong, mana buktinya?" atau, "butikan omongan anda, bila memang anda benar!" Lalu, apa ukuran yang tepat untuk sebuah kebenaran?
Bahwa bukti tentu tidak ada faedahnya bila tidak ada gagasan yang mau dibuktikan, sebab kenapa harus repot-repot mencari bukti bila tidak ada yang hendak dibuktikan... di samping itu, bukti itu kan tidak tiba-tiba ada, melainkan didapatkan dengan bantuan sejumlah gagasan (Informasi). artinya, bagaimanapun juga bukti membutuhkan gagasan. Di sisi lain, gagasan saja tentu tidak cukup untuk dikatakan benar bila belum dibuktikan, sebab sering sebuah gagasan ternyata tidak terbukti di lapangan. karena itu, perlu ada pembuktian gagasan.
Jikan demikian, berarti gagasan membutuhkan bukti dan bukti membutuhkan gagasan, atau harus ada pembuktian gagasan dan harus ada gagasan yang hendak dibuktikan. dengan kata lain, sebuah kebenaran membutuhkan gagasan dan juga bukti. lalu apa ukuran kebenarannya?
Bila gagasan dan bukti telah ada, maka pertanyaannya adalah, apakah gagasan dimaksud sesuai / cocok / konsisten dengan bukti yang ada? bila cocok, maka dapatlah dikatakan gagasan tersebut terbukti benar. dan bila tidak, maka katakan saja: "ternyata anda cuma bisa ngomong, tapi tidak bisa membuktikan," alias salah besar. jadi, ukuran kebenarannya adalah kesesuaian / kecocokan antara gagasan dengan bukti, atau istilah yang sering dipakai, Objektif.
Oleh sebab itu, jangan terlalu cepat percaya / membenarkan gagasan / informasi seseorang bila rasanya sulit untuk dibuktikan, dan jangan pula langsung percaya meskipun bukti telah ada, sebab tidak jarang bukti hanya dijadikan alat untuk sekedar meyakinkan orang lain demi kepentingan tertentu yang mungkin saja akan merugikan anda, dimana sebenarnya bukti tersebut ternyata sebuah tipuan atau rekayasa yang tidak sejalan dengan gagasan yang ada. semoga bermanfaat..

Minggu, 04 Mei 2008

EMBUN

Aku melihat senyummu tadi pagi, Jeung. .Sebentar saja.
Ia mengintip dari balik daun-daun cemara.
Lalu lesap bersama embun yang menguap.
Secepat itukah kau pergi, seperti gerimis kepagian? Kenapa?
Mestinya kau tahu, aku bukan pangeran negeri kabut — penunggang kuda putih dengan gandewa di tangan.
Jadi usahlah kau takut, Lalu beringsut, Menjauh, Dengan lembut.

Aku cuma pengelana murba yang berlawalata sepanjang masa.
Rumahku udara, Pergi ke mana suka.
Senjataku kata, Tamengku cinta.
Jalanku sunyi, Arahku matahari.

Aku lahir pada musim semi di kilometer nol.
Ayahku matahari, ibuku rembulan.
Ibuku bersalin tak lama setelah hujan dan matahari bercumbu, lalu melahirkan pelangi.
Langit redup, Awan runduk.
Burung-burung beterbangan seperti arak-arakan kebahagiaan yang menunggang senja di kejauhan.
Ibuku bercerita,
aku menangis keras ketika pertama kali menjilat udara.
Kaki menendang, tanganku mengentak.
Jumpin’ Jack Flash!

Aku besar dalam kelimun mega-mega.
Malam inangku, siang temanku.
Hamparan bintang-bintang peraduanku.
Dan semesta taman bermainku.
Aku menadah air mata bidadari setiap pagi.
Membelai angin setiap hari.
Hingga kau datang dan merobek kesunyian.

Ya kamu.
Perempuan dengan segerobak letih dan lesu.
Tubuh lisut. Kuyu. Dan bibirmu kelu.
Malammu racun, siangmu topeng. Langkahmu oleng.
Kamu rama-rama dengan sayap yang retak.
Tertatih terbang arungi ruang dan waktu yang tak pernah beku.
Mungkin kamu lahir di musim panas, ketika La Nina dan El Nino bersekutu menghumbalang bumi.
Lintang kemukus dini hari.
Yang berpendar sebentar, lalu mati.

Barangkali para bidadari tengah merajut sedih ketika kau hadir di sini.
Aku tak mengerti.
Aku cuma tahu ada luka di matamu.
Kepedihan yang dalam.
Tapi hanya itu.
Selebihnya kabut biru.

Tentu saja aku kehilangan — sangat — saat bayangmu lindap.
Aku jadi sepi sendiri, ditikam sepisau sunyi.
Kamu pasti tak tahu aku telah berjalan melintas waktu mengejar jejakmu.
Nyaris letih dan lunglai di ujung harapan semu.
Dan kini, setelah kau moksa, apa lagi yang tersisa selain hampa …

Senin, 28 April 2008

Pandangan Jabariyah dan Qodariyah dan sebuah upaya kompromi

Pandangan Jabariah dan Qodariah dan Sebuah Upaya Kompromi[1]
Oleh:
Muhammad Sakinul Wadi

Allah adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta (QS: 6; 101), termasuk didalamnya manusia. Semua yang dapat memberikan faedah bagi manusia diberikan allah sebagai karunia kepada manusia. Artinya, segala sesuatu mempunyai nilai yang dapat dimanfaatkan atau digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu karunia yang sangat berharga dan membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal.
Allah SWT bersifat maha kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Disinilah timbul pertanyaan, sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan bergantung kepada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah dalam menentukan perjalanan hidupnya? Ataukah Allah memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada manusia untuk mengatur hidupnya, atau manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah? Lalu apa tujuan Allah memberikan karunia akal kepada manusia?
Pertanyaan-pertanyaan diatas telah lebih dari 13 abad mewarnai perjalanan umat islam hingga saat ini. Menurut ulama tarikh (sejarah) bahkan masalah ini erat kaitanya dengan dinamika politik ketika itu.
Diantara kelompok atau faham yang sangat dikenal dalam sejarah adalah faham jabariah dan qodariah yang masing-masing memiliki paradigma yang saling bertolak belakang, khususnya menyangkut masalah kekuasaan dalam berkehendak.
Menurut faham qodariah, bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut faham ini manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian setelah Allah menciptakan manusia dan segala sesuatu yang ada di alam semesta selanjutnya kekuasaan untuk menentukan bagaimana dan seperti apa perjalanan hidupnya, berada di tangan manusia. Untuk itulah manusia diberikan akal. Dari pengertian inilah nama qodariah berasal, yaitu bahwa manusia mempunyai Qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya (free will).
Faham jabariah berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak atau perbuatannya, akan tetapi terikat atau tergantung pada kehendak mutlak Allah. Dengan demikian, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa, sebab perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan sejak semula oleh Allah. Dari pengertian ini pulalah nama jabariah berasal, yaitu bahwa manusia menjalani hidup dalam keadaan terpaksa (ja-ba-ra).
Singkatnya, bagi qadariah, manusialah yang menentukan apakah ia akan menjadi orang baik atau orang jahat, menjadi orang kaya atau orang miskin dan seterusnya, dengan menggunakan akalnya. Sebaliknya bagi jabariah, semua itu telah ditentukan oleh Allah sebelumnya, sehingga manusia hanya memerankannya, ibarat wayang yang dimainkan oleh dalang.
Muncul pertanyaan, jika benar manusia sendiri yang menetukan jalan hidupnya, lalu apa faedah/efek manusia memohon (berdo’a) kepada Allah? Sebaliknya, jika benar jalan hidup manusia telah ditentukan Allah, lantas apa faedah manusia berusaha?
Sebagai ummat islam, tentu kita menginginkan agar perjalanan hidup kita sesuai dengan ajaran Allah yang telah tertuang dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh nabi Muhammad, agar dapat mencapai kesuksesan baik di dunia maupun akhirat. Oleh sebab itu, untuk mencari titik temu pandangan yang saling kontradiktif dari kedua faham di atas, kita pun harus mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sembari memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan jalan untuk sampai kepada jawaban yang kita cari, insyaAllah..
Allah SWT. Berfirman:
Artinya: “pedoman hidup, yang menjadi penjelasan dari pedoman itu sendiri, dan sebagai teory perbandingan (antara nilai hak dan nilai bathil)”(Q.S. 2:185)
Dari potongan ayat di atas, dapat ditarik tiga prinsip:
1. Deskriptif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan harga dan nilai informasi yang dijelaskannya (hak maupun bathil). Lihat surah 16;44, 2;221.
2. Komparatif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an untuk membandingkan harga dan nilai informasi yang telah dijelaskan (antara Haq dengan Bathil). Lihat Q.S. 2:256, 7:146, 8:8.
3. Harga dan nilai HaqAlternatif ( ), yaitu fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia, dengan memberikan kebebasan memilih kepada manusia sesuai dengan kehendaknya (Haq atau Bathil). Lihat Q.S. 76:3, 18:29.

Ø Allah mendeskripsikan dan mengkomparatifkan masing-masing harga dan nilai secara objektif kepada manusia menurut kehendak-Nya. Harga dan nilai ini bersifat tetap, sebagai ketentuan yang tidak bisa dirubah oleh manusia
Ø Manusia mengalternatif salah satu harga dan nilai (hak atau bathil) sesuai dengan kehendak manusia (subjektif manusia).
Ø Untuk mendapatkan nilai (hak atau bathil) manusia harus membayar harga yang telah ditentukan oleh Allah.
Ø Harga hak bernilai hak dan harga bathil bernilai bathil. Pasangan dari masing-masing harga dan nilai bersifat tetap.

NILAI DAN HARGA
Nilai adalah ; kemampuan yang membuat sesuatu menjadi sedemikian rupa.
Harga adalah ; jumlah yang harus dibayar / dikorbankan untuk mendapatkan nilai.

Contoh nilai ;
Satu gelas minuman mampu menghilangkan dahaga satu orang dalam waktu tertentu. Nilai ini sifatnya tetap, tidak bergantung pada mau atau tidaknya manusia membayar harganya. Artinya, minuman tersebut tetap mampu menghilangkan dahaga meskipun manusia tidak mau dengan minuman tersebut.
Contoh harga :
Minuman diatas oleh yang memilikinya dijual dengan harga Rp. 1000. siapapun yang menghendaki nilai minuman tersebut, harus mengorbankan / membayar seharga Rp. 1000. selanjutnya meskipun ia telah membayar Rp. 1000 ia tetap harus menanyakan / meminta kepada pemiliknya agar mau menjual minuman tersebut kepadanya. Sebab, bisa saja minuman tersebut telah dipesan orang lain atau pemilik minuman tersebut tidak mau menjual kepadanya dengan alasan tertentu.
Singkatnya, untuk mendapatkan nilai manusia harus mengorbankan sejumlah sesuatu untuk membayar harganya. Dalam konteks Al-Qur’an, harga hak untuk nilai hak, harga bathil unuk nilai bathil. Siapa yang menghendaki nilai hak harus membayar harga hak, demikian pula sebaliknya. Mau dengan harga hak silahkan…! Yang pasti harga hak bernilai jannah. Mau dengan harga bathil, silahkan…! Yang jelas harga bathil bernilai naar (kesengsaraan). Allah telah menetapkan pasangan masing-masing yang tidak bisa dirubah dengan manusia. Namun manusia diberikan kekuasaan / kebebasan untuk memilih. Allah hanya berharap agar manusia mau memilih harga dan nilai hak, demi kebahagiaannya di dunia dan akhirat.
Contoh harga dan nilai dalam Al-Qur’an:
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah “membeli” jiwa dan harta orang mukmin dengan surga bagi mereka. Mereka berperang dijalan Allah baik membunuh atau terbunuh, janji Allah sudah pasti, ini ketetapan allah dalam taurat, injil dan al-qur’an. Tak ada yang lebih setia menepati janji dari pada allah. Maka, bergembiralah dengan janji yang kamu buat. Itulah suatu kemenangan yang sungguh besar”.
Artinya, mengorbankan jiwa dan harta merupakan harga yang harus dibayar untuk mendapatkan iman. Dan iman mampu menciptakan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi siapapun (bernilai jannah). Siapa yang menetapkan harga dan nilai? Allah! Dan siapa yang harus membayar harga dari nilai tersebur? Manusia!
Berkaitan dengan masalah rezeki, – yang mana menurut jabariah bahwa Allah telah menetapkan rezeki setiap manusia sejak awal, dan menurut qodariah bahwa Allah belum menentukan rezeki manusia sejak awal, tetapi manusia lah yang menentukan sendiri rezekinya – dengan rumusan dan harga nilai ini, allah memerintahkan kepada manusia untuk berusaha dan berdoa. Perintah berusaha dapat kita lihat dalam QS. 62:10 dan perintah berdoa dalam QS. 40:60
Dengan demikian, berusaha dan berdoa merupakan harga yang harus dibayar oleh manusia untuk mendapatkan rezeki dari Allah. Allah telah mengaruniai manusia dengan akal dan jasmani yang sehat, dan dengan itu manusia harus berusaha, setelah berusaha manusia harus berdoa agar usahanya tidak menemui hambatan, sehingga ia akan mendapatkan apa yang ia usahakan. Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam hal ini. Pertama, manusia telah diberikan oleh Allah daya upaya dalam bentuk kemampuan bekerja dan berfikir. Di dalam lapangan rezeki, ada hal-hal yang berada dalam jangkauan daya manusia, yang dapat diraih dengan bekerja dan berfikir. Namun demikian, ada pula hal-hal yang berada diluar jangkauan daya manusia yang tidak dapat diupayakan dengan kemampuan bekerja dan befikirnya, misalnya perubahan iklim, bencana dan lain-lain. Hal yang kedua inilah yang harus diupayakan dengan doa, agar Allah SWT menjauhkan hal-hal yang dapat menghambat dan menghalangi usaha manusia untuk mendapatkan rezekiNya.
Apabila kita kaitkan dengan pandangan kodariah maka dapat dikatakan manusia hanya perlu berusaha saja. Sementara jabariah cukup dengan doa saja, atau bahkan dengan berdiam diri saja, sebab segala sesuatu telah ditetapkan Allah. Ada juga yang berpendapat bahwa rezeki, umur dan lain sebagainya telah ditetapkan oleh Allah sejak semula, namun ketetapan itu tidak menggugurkan kewajiban manusia untuk berusaha dan berdoa. Mudah-mudahan apa yang telah kami deskriptifkan dan komparatifkan dapat mengkompromikan sisi-sisi kontrdiktif dari pandangan-pandangan diatas. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita semua dari kesalahan. Amin……
Demikianlah pemaparan materi diskusi kali ini, semoga bermanfaat khususnya bagi kami pribadi dan umumnya para hadirin sekalian. WALLAHU A’LAM

[1] Disampaikan pada pertemuan rutin Ikatan Keluarga Riau Yogyakarta, Tgl. 12 Maret 2008.